3 TINGKATAN PUASA


3 TINGKATAN PUASA
1. Shoumul ‘awam (puasa golongan umum) yaitu puasanya orang yang menahan hawa nafsu dari makan-minum dan kemaluannya ;
“Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu : Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan : Jika berbuka akan gembira, dan jika bertemu tuhannya ia akan senang dengan ganjaran puasanya.” (HR Bukhari)
Orang yang berpuasa pada tingkatan ini hanya akan merasakan lapar dan haus. Orang tipe ini hanya akan menggugurkan kewajiban atau dosa akibat meninggalkan puasa.

2. Shoumul khawashi (puasa tingkatan khusus/istimewa) ya’ni puasanya orang-orang shalih dan matang dalam ilmu agamanya dimana mereka dapat menahan anggota tubuh dari segala macam dosa. Kakinya tidak berjalan ke tempat maksiat, tangannya tidak berbuat maksiat, menjaga mulutnya dan tidak mengucapkan kata-kata yang dilarang Allah Swt., baik dalam bentuk mengumpat, berbohong, menggunjing, dan lainnya. Juga menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang terlarang. Sama halnya menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak baik.
“Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Puasa itu sebagai pendinding, maka orang yang berpuasa dilarang berkata keji atau seperti perkataan orang bodoh, dan jika seseorang akan membunuhnya atau memakinya maka katakanlah : Aku puasa, aku puasa. Demi diriku ditangan Allah sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari bau misik atau kasturi, yang ia meninggalkan makan, minum dan nafsu syahwatnya untuk aku (Allah). Puasa itu untukku dan akulah yang akan memberikan ganjarannya, dan kebaikan itu dengan 10 kalinya”. (HR Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam Al-Imam Al-Ghazali menyebutkan ; bahwa seseorang tida akan mencapai kesempurnaan dalam tinkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasyaratnya, yaitu :
1) menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan;
2) menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran;
3) menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik;
4) mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa;
5) tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan;
6) hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

3. Shoumul khawashil khawashi (puasa sangat istimewa) Ialah Puasanya orang yang menahan hati dari kemauan yang rendah dan dari pemikiran terhadap duniawi, dan menahannya juga pemikiran kepada selain Allah dengan secara keseluruhan. Dan ini adalah martabat puasanya para Nabi dan para Shiddiqiin.
“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa berbelanja (bersedekah) dua orang pada jalan Allah maka akan dipanggil dari pintu-pintu sorga : Wahai hamba Allah, inilah kebaikan. Barangsiapa banyak shalatnya ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa banyak jihadnya (kebaikannya dijalan Allah) ia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa banyak puasanya ia akan dipanggil dari pintu Rayyan, dan barangsiapa banyak sedekahnya ia akan dipanggil dari pintu sedekah. Maka berkatalah Abu Bakar Ra : Ya Rasulullah, aku benar-benar bertanya : Tidaklah panggilan dari pintu- pintu itu ada kesulitan ? Apakah seorang dipanggil dari pintu-pintu itu semuanya ? Nabi menjawab : Ya, dan aku mengharapkan engkau termasuk diantara mereka. (HR Bukhari).

Pada puasa tingkat tertinggi ini tidak hanya mulut yang berpuasa dari berbagai makanan dan minuman serta menahan kemaluan dari berhubungan suami istri (jima’), serta anggota badan dari perbuatan maksiat, tapi juga menjaga jiwa, hati dan pikiran dari hal-hal yang melanggar ajaran syari’at.

Al-hasil ; Tak perduli kita ditingkatan yang mana, yang penting jalani perintah Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya. Dan semoga bulan puasa tahun ini akan menambah derajat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Al-Haqiir wal faqiir fil’ilmi wal adab

( Mahidin Azhari )

Seputar SHOLAT


WAKTU-WAKTU SHOLAT
Shubuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq sampai terbitnya matahari. Pada hari-hari belasan setiap bulan qamariyah, menurut Imam Khomeini ra, ahwath wajib untuk mengakhirkan shalat subuh sekitar 15-20 menit dari terbitnya fajar (adzan subuh). Adapun menurut Imam Khamenei hal itu hany ihtiyah sunnah saja.

Dhuhur dan Ashar memiliki tiga waktu :
• Waktu khusus Dhuhur adalah sejak tergelincirnya matahari sampai sekedar melaksanakannya.
• Waktu khusus Ashar adalah beberapa menit sekedar melaksanakannya sebelum terbenam matahari.
• Waktu musytarak adalah waktu antara waktu khusus Dhuhur dan waktu khusus Ashar.
• Waktu fadhilah Dhuhur dari tergelincirnya matahari sampai bayangan suatu benda seperti bendanya.
• Waktu fadhilah Ashar dari selesai melaksanakan waktu shalat Dhuhur (di awal waktu) sampai bayangan suatu benda menjadi dua kali bendanya.

Maghrib dan Isya ? memilki tiga waktu berikut :
• Waktu khusus Maghrib, yaitu sejak terbenamnya matahari yang ditandai dengan hilangnya mega merah sebelah timur sampai sekedar melaksanakannya.
• Waktu kusus Isya? Yaitu beberapa menit dari pertengahan malam sekedar melaksanakannya.
• Waktu musytarak adalah waktu antara waktu khusus maghrib dan waktu khusus Isya’.
• Waktu fadhilah maghrib dari hilangnya mega merah sebelah timur sampai hilangnya mega merah yang sebelah barat.
• Waktu fadhilah Isya’ dari hilangnya mega merah yang disebelah barat sampai sepertiga malam.

Keterangan :
1. Pada waktu khusus tidak boleh dilakukan shalat lain.
2. Pada waktu musytarak harus mendahulukan Dhuhur daripada Ashar dan harus mendahulukan maghrib daripada Isya’.
3. Bagi mereka yang karena udzur atau yang lainnya tidak melaksankan shalat maghrib dan Isya? Sampai pertengahan mala, maka wajib melaksanakannya saat itu dengan tanpa niat adaa an dan qadha an, namun dengan niat maa fidz dzimmah.

Qiblah
1. Wajib bagi setiap orang yang shalat dalam keadaan ikhtiyariy (tidak dharurat) baik shalat wajib maupun shalat sunnah yang dilakukan dalam keadaan diam (tidak jalan) untuk menghadapkan bagian depan badannya kearah qiblat baik dengan yakin atau sangkaan yang kuat.
2. Ketika setelah berusaha untuk menentukan arah qiblat tetapi belum juga dapat menentukannya, maka wajib mengulang shalat kea rah yang tepat atau arah yang dimungkinkan merupakan arah qiblah.
3. Ketika shalat ketahuan, bahwa arah qiblatnya salah, maka ada beberapa kemungkinan berikut ;
a. Kesalahannya tidak sampai kearak kanan atau kiri (90 derajat) dan ketahuaannya pada saat sedang shalat, maka ia bias merubah posisinya kearah yang benar dan meneruskan shalatnya.
b. Kesalahannya tidak sampai 90 derajat dan ketahuannya setelah shalat, maka shalatnya dianggap sah.
c. Kesalahannya sampai 90 derajat dan ketahuannya setelah shalat, maka wajib mengulang shalatnya jika ada waktu.
d. Kesalahannya lebih dari 90 derajat dan ketahuannya pada saat sedang shalat dan waktu masih banyak maka wajib mengulang shalatnya.
e. Kesalahannya 90 derajat atau lebih, ketahuannya saat sedang shalat dan sudah tidak ada waktu lagi, maka wajib merubah ke posisi yang benar. Ihtiyath mustahab untuk mengulang shalat pada semua keadaan.

Menutup Aurat
Diwajibkan pada setiap shalat, baik wajib maupun sunnah dan bagian-bagian yang tertinggal dari shalat, untuk menutup aurat, sebagaimana ahwath wajib juga untuk sujud sahwi.
Aurat seorang laki-laki di dalam shalat adalah sebagaimana aurat di luar shalat, yaitu dua kemaluan, depan dan belakang.
Adapun aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah (sebatas yang wajib dibasuh setelah wudhu)telapak tangan sampai pergelangan dan dua kaki sampai mata kaki (pemisah antara mata kaki dan betis)
Untuk meyakinkan bahwa yang wajib ditutup telah tertutup, maka wajib melebihkan dari kadar wajib diatas.

Syarat-syarat penutup aurat (pakaian) dalam shalat :
1. Kesucian, kecuali pada beberapa hal berikut:
a. Najis darah yang ada pada baju orang yang sedang luka / borok.
b. Najis darah yang besarnya tidak sampai ruas jari telunjuk, dengan syarat bukan darah haish, nifas dan istihadhah.
c. Najis yang ada pada bagian pakaian yang kecilsrta tidak bias menutup aurat laki-laki, seperti kaos kaki, ikat pinggang dll, dengan syarat bukan najis? Ainiy dan tidak basah.
2. Mubah
3. Bukan dari kulit binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya.
4. Bukan dari emas atau sutra murni bagi laki-laki.

Tempat Shalat
Disyaratkan pada tempat yang digunakan untuk shalat:
1. Mubah
2. Tanah/tidak jalan/tidak goyang dalam keadaan shalat ikhtiyariy dan shalat wajib.
3. Khusus tempat sujud disyaratkan:
a. Suci
b. Tanah / batu dan segala sesuatu yang tumbuh dari tanah, namun bukan bahan makanan atau pakaian.
c. Atau boleh juga kertas pengganti b.

Keterangan :
1. Jika tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan alas sujud seperti disebut diatas, maka dapat sujud pada yang disebutkan dibawah ini dengan secara beruruta:
a. Kain atau baju yang terbuat dari kapas
b. Kain atau baju yang terbuat dari rami (kain linen)
c. Baju yang dipakai yang terbuat dari jenis lain a dan b.
d. Bagian luar telapak tangannya.
e. Barang tambang.
2. Jika ketika sedang shalat, kemudian hilang darinya (tidak ada padanya) tempat sujud yang memenuhi syarat, maka jika waktu masih banyak, ia wajib untuk memutuskan shalatnya dan mengulangi lagi dari awal dengan menggunakan alas sujud yang memenuhi syarat. Namun jika waktu sudah sempit, maka ia boleh meneruskan shalatnya dengan sujud pada yang memungkinkan dari salah satu benda diatas (a-e) secara berurutan.
3. Mustahab hukumnya melakukan shalat di masjid.
4. Makruh (kurang pahalanya) melakukan shalat:
a. Di kamar mandi.
b. Di tempat-tempat kotoran.
c. Di jalan umum selama tidak mengganggu orang yang lewat.
d. Di tempat semut / air walaupun sedang tidak ada semut ataupun airnya.
e. Di atas kuburan atau diantara dua kuburan, kecuali kuburan para Imam a.s
f. Berhadapan dengan api atau lampu.
g. Berhadapan dengan gambar dan patung.
h. Berhadapan dengan Al-Quran atau kitab lain yang terbuka.
i. Berhadapan dengan pintu yang terbuka.

Adzan dan Iqamah
Termasuk yang sangat dianjurkan (mustahab muakkad) melakukan adzan dan iqamah sebelum melakukan shalat wajib harian yang lima kali, baik laki-laki atau perempuan, sedang dirumah atau dalam perjalanan (musafir), adaa an atau qadhaa an, sendirian atau jamaah (untuk yang terakhir jika telah ada satu orang yang melakukannya, maka gugurlah bagi yang lain)

Lafadz Adzan dan Iqamah :
Adzan Iqamah Bacaan
2 X 1 X Allahuakbar Allahuakbar
2 X 2 X Asyhaduanlaillahaillah
2 X 2 X Asyhaduannamuhammadarasulullah
2 X 2 X hayaa’alasalah
2 X 2 X hayaa’alalfalah
2 X 2 X hayaa’alakhairila’mal
– 2 X qadqamatisalah
1 X 1 X Allahuakbar Allahuakbar
2 X 1 X laillahaillah

B. Af’al Shalat
Afaal Shalat (pekerjaan) shalat terbagi menjadi dua, wajib dan mustahab. Yang wajib terbagi menjadi dua, wajib rukun dan wajib non rukun.
1. Wajib Rukun
Adalah kewajiban yang harus dilakukan dan akan batal shalat jika ditinggalkan atau ditambah baik dengan sengaja atau tidak. Yaitu sbb:
1) Niat
Yaitu dorongan motivasi untuk melakukan shalat karena melaksanakan tugas dan mendekatkan diri kepada Allah.
Wajib pada niat menentukan jenis shalat, serta adaa an atau qadhaa an jika masih memiliki tanggungan shalat qadha?
Wajib adanya niat shalat yang berkesinambungan dari awal takbirsampai akhir salam, maka jika seseorang memutuskan untuk memutuskan shalatnya di pertengahan shalat, batallah shalatnya, kecuali tanpa adanya senggang waktu dan tidak melakukan sesuatu kembali ke niat shalat.

Diperbolehkan merubah niat dalam beberapa keadaan berikut:
a. Dari shalat adaa an ke qadhaa an
b. Shalat kedua (Ashar / Isya) ke shalat pertama (Dhuhur / Maghrib)
c. Shalat wajib ke shalat sunnah, dengan salah satu dari dua alas an berikut:
• Ingin bergabung dengan berjamaah
• Ingin membaca surah Jum’ah dan Munafiqun pada shalat Dhuhur hari Jumat
d. Shalat jamaah sendirian (munfarid)

Keterangan: a / d tidak diperkenankan kebalikannya

2) Takbiratul Ihram
Wajib membaca takbiratul ihram, yaitu bacaan Allahuakbar dalam keadaan berdiri tegak dan tubuh tidak bergerak.

Dianjurkan (mustahab) disaat mengucapkan takbir ini, mengangkat kedua tangan diluruskan dengan telinga atau wajah dengan mengahadapkan kedua perut telapak tangan ke qiblah.

Dianjurkan juga takbir sebanyak enam kali sebelum atau sesudah takbiratul ihram atau tiga sebelumnya dan tiga setelahnya.

Shalat akan batal mengucapkan takbiratul ihram yang kedua dan akan sah dengan tahbiratul ihram yang ketiga, dan begitu seterusnya sah dengan ganjil dan batal dengan genap.

Takbir-takbir lain selain tahbiratul ihram, seperti takbir akan ruku, akan sujud dan bangun dari sujud hukumnya mustahab, namun wajib dilakukan dalam keadaan berdiri tegak (badan tidak bergerak).

3) Berdiri
Bediri yang dianggap wajib ruku adalah pada saat takbiratul ihram dan saat akan ruku adapun yang lainnya tidak.

Di dalam keadaan mampu pada saat berdiri disyaratkan 5 berikut:
a. Seluruh tubuh kecuali tangan dan tidak bergerak.
b. Berdiri tegak.
c. Mandiri tidak bersandar pada sesuatu.
d. Berdiri pada dua kaki.

Pada saat tidak memungkinkan untuk melakukan shalat berdiri, walaupun dengan bantuan tongkat atau bersandar pada sesuatu, maka seseorang harus melakukan shalat sebisa mungkin dengan sesuai kemampuan dengan urutan sbb:
a. Duduk
b. Berbaring pada sebelah kanan dengan menghadapkan bagian depan badannya kearah qiblah.
c. Berbaring pada sebelah kiri dengan menghadapkan bagian depannya kea rah qiblah.
d. Terlentang dengan menghadapkan kedua telapak kakinya kea rah qiblah.

4) Ruku
Adalah membungkukkan badan seukuran sampainya dua tangan ke lutut.
Wajib pada ruku beberapa hal berikut:
a. Tenang (thuma’ninah)
b. Membaca tasbih pendek yaitu (subhanallah) sebanyak tiga kali atau tasbih panjang yaitu (subhana Robbiyal a’ziymi wabihamdih) sebanyak sekali. Dan mustahab diulang-ulang dengan jumlah ganjil.
Jika seseorang karena lupa langsung menuju sujud, jika ingat:
• Di saat sebelum meletakkan dahinya ke tempat sujud, maka ia wajib berdiri tegak dan membungkukkan badannya dengan niat ruku’
• Di saat telah meletakkan dahinya ke tempat sujud, mak batallah shalatnya.
5) Dua kali sujud dalam satu rakaat
Sujud adalah meletakkan tujuh anggota (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung ibu jari kaki) ketempat shalat.

Wajib di dalam sujud beberapa hal berikut:
a. Tenang (thuma’ninah)
b. Membaca tasbih pendek yaitu (subhanallah) sebanyak tiga kali atau tasbih panjang yaitu (subhana Robbiyal a’ziymi wabihamdih) sebanyak sekali. Dan mustahab diulang-ulang dengan jumlah ganjil.
c. Menekankan tujuh anggota tersebut ke tempat shalat (tidak sekeda nempel)
d. Tidak boleh tempat dahi lebih tinggi dari tempat lutut lebih dari satu batu bata atau empat jari dengan dirapatkan.
e. Khusus dahi diisyaratkan dari tanah atau sesuatu yang tumbuh dari tanah, namun bukan bahan makanan atau pakaian, atau kertas.
Bagi orang yang pada dahinya ada udzur, sehingga tidak memungkinkan untuk sujud, maka bisa sujud sesuai dengan kemampuan sesuai urutan di bawah ini:
a. Pelipis bagian kanan
b. Pelipis bagian kiri
c. Dagu
d. Bagian lain dari wajah
Bagi orang yang tidak memungkinkan untuk sujud (karena gemuk, sakit dll) maka ia wajib sujud sebisa mungkin, walaupun hanya menganggukkan kepalanya dan mengangkat turbah / kertas.

2. Wajib Non Rukun (Ghayru Rukny)
Adalah kewajiban yang harus dilakukan dan akan batal shalat ketika ditambah atau ditinggalkan dengan sengaja. Yaitu hal-hal berikut:
1) Membaca fatihah, surah dan dzikir
Wajib pada rakaat pertama dan kedua dari shalat wajib membaca surah al-Fatihah dan satu surah sempurna setelahnya. Adapun pada rakaat ketiga dan keempat, boleh memilih antara surat al-Fatihah dan membaca tasbih berikut sebanyak sekali dan lebih mustahab tiga kali yaitu:
Subhanallah Walhamdulillah Wala Illaha Illaallah Waallahhuakbar
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam bacaan:
I. Basmalah adalah bagian dari setiap surat al-Fatihah dan setiap surat lainnya, oleh karena itu wajib membacanya sebelum setiap surat, kecuali surat At-taubah (Bara ah) bahkan menurut Imam Khomeini wajib menentukan terlebih dahulu surat yang akan di baca sebelum membaca basmalah.
II. Tidak diperkenankan membaca surat yang panjang sehingga menyebabkan habis waktu.
III. Tidak diperkenankan membaca surat azaa im yang empat dan jika karena lupa membacanya dan sampai pada ayat yang wajib sujud tilawah, atau mendengar orang lain membacanya, maka wajib nenundukkan kepala sebagai isyarat suud dan Ahwath mustahab setelah salat sujud tilawah.
IV. Khusus surat adh-Dhuha dan surat al-Insyirah wajib digabung dengan tetap membaca basmalah diantara keduanya. Begitu juga surat al-Fiyl dan Quraisy.
V. Bagi seorang laki-laki wajib untuk mengeraskan suaranya (menampakkan huruf-huruf bacaannya) pada saat membaca al-Fatihah dan surat pada rakaat pertama dan kedua shalat shubuh. Mghrib dan Isya’. Sebaliknya wajib memelankan pada rakaat ketiga dan ke empat semua shalat. Adapun pada rakaat pertama dan kedua shalat Dhuhur dan Ashar wajib dipelankan semua bacaan kecuali dianjurkan bacaan basmalah saja untuk dikeraskan.
VI. Bagi wanita tidak ada kewajiban untuk mengeraskan bacaan, kecuali pada bacaan yang wajib dikeraskan oleh seorang laki-laki ia boleh memilih antara mengeraskan dan memelankan jika shalat sendirian atau di sebelah suami atau di sebelah suami atau muhrimnya.
VII. Bacaan diwajibkan benar, artinya tidak boleh merubah satu huruf dengan huruf lain. Adapun hokum-hukum tajwid lainnya, maka lebih baik jika diperhatikan juga.
VIII. Bagi yang tidak bisa membaca dengan benar dan tidak mungkin untuk belajar sehingga benar, maka dianggap sah dengan bacaan yang ada. Walaupun dianjurkan (ihtiyath mustahab) untuk selalu berjamaah.
IX. Bagi yang bisa belajar namun tidak belajar, maka ihtiyath wajib untuk selalu berjamaah sebisa mungkin.

RESEP KHUSYU’ DALAM SHOLAT


RESEP KHUSYU’ DALAM SHOLAT

Sebenarnya KHUSYUK dalam Solat adalah sangat-sangat dituntut seperti Firman Allah s.w.t:-

yang bermaksud “Telah berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya”[Surah Al-Mukminun : ayat 1-2]. Firman-Nya lagi :-
“Peliharalah segala sembahyangmu dan peliharalah sembahyang utama (Asar, Subuh) dan berdirilah untuk Allah (melalui solatmu) dengan khusyuk” [Surah Al-Baqarah : ayat 238] dan ketahuilah, solat adalah ibadah utama yang akan dihisab terlebih dahulu di akhirat oleh Allah SWT, berbanding dengan amalan-amalan yang lain. Sekiranya solat seseorang itu dalam keadaan sempurna, maka barulah dihitung pula amalan yang lain. Firman Allah lagi:-
yang bermaksud : “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya.” [Surah Al-Ma'un : ayat 4-5]

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud “Berapa banyak orang yang mendirikan solat, tetapi yang di perolehi hanya penat dan letih, kerana mereka itu lalai dalam sembahyangnya.” Nabi s.a.w bersabda lagi yang bermaksud : “Tidak ada habuan bagi seseorang hamba dalam sembahyangnya kecuali sekadar mana yang ia ingat.” Hadis lain dari Rasulullah s.a.w. “Aku selalu mengingati mati dalam sembahyang”. serta “Apabila kamu sembahyang anggaplah sembahyang ini sembahyang perpisahan”. Yang dikatakan khusyuk itu ialah hati sentiasa hidup, untuk mengekalkan sembahyang yang khusyuk, amalan berikut perlulah diamalkan dan diperhatikan oleh setiap orang yang mengerjakan sembahyang :

1. Menjaga makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain supaya datang dari punca yang halal tanpa syubhah.

2. Agar pemikiran tidak liar, sebelum solat lintaskan kematian seakan-akan amat hampir dengan kita serta solat tersebut merupakan sholat terakhir dan perlulah dijadikan yang terbaik.

3. Mendirikan sembahyang di awal waktu atau pertengahan waktu supaya tidak gopoh apakala masa hampir luput.

4. Membaca dengan baik (Khusnul Qori’ah), berusaha untuk memahami, mengerti bacaan dalam solat termasuk ayat Al-Quran yang dibacakan itu terutama sekali Al Fatihah, gerakan dan maknanya (Tafakhum). Ini kerana bacaan-bacaan dalam solat mengandungi banyak makna yang halus yang patut dimengertikan oleh orang yang melaksanakannya.

5. Rukun-rukun solat dilakukan secara tertib. Berusaha konsentrasi (Khudunul Kolbih), menyedari bahawa Allah memperhatikan sembahyang itu.

6. Rasa Malu (Haya’) perasaan malu terhadap Allah s.w.t., rasa takut (Khauf) kepada kekuasaan Allah.

7. Berharap serta yakin (Optimis) Allah menerima solat dan amal kita.

8. Hati diajak hadir/ikut, kehadiran hati dalam solat iaitu mengosongkan hati dari segala urusan yang boleh mengganggu dan yang tidak berkaitan dengan solat.

9. Membesarkan Allah dalam solat, merasakan kehebatan Allah dalam solat.

10. Menggunakan sejadah yang tidak terlalu banyak gambar yang akan menghayalkan pemikiran.

11. Mendirikan sembahyang secara berjemaah.

12. Mengambil wuduk dengan sempurna.

13. Mengurangkan pergerakan anggota-anggota seperti tangan, kaki dan juga Mata ditumpukan kepada tempat sujud dan ketika tasahut melihat anak jari.

14. Azan dan iqamat terlebih dahulu walaupun mendirikan sembahyang bersendirian ataupun sekurang-kurangnya iqamat sahaja.

15. Ditegah bersembahyang dengan pakaian yang ada gambar, berwarna warni, bertulis, lukisan dan lain-lain kerana ia juga membuat orang lain hilang kekhusyukan ketika berjemaah.

Walau apapun syarat khusyu’ yang paling utama ialah kemantapan iman dalam diri terhadap Allah SWT. Oleh sebab itu, berusahalah untuk mengenali Allah dan memperteguhkan keimanan kepadaNya. Sebenarnya, khusyuk di dalam sembahyang bermula dari khusyuk di luar sembahyang. Kalau di luar sembahyang hati tidak khusyuk dengan Allah, memang payah untuk khusyuk di dalam sembahyang. Imam Al-Ghazali menyatakan bahawa orang yang tidak khusyuk solatnya adalah dikira sia-sia belaka, kerana tujuan solat itu selain untuk mengingati Allah SWT, ia juga berfungsi sebagai alat pencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Apabila lalai ketika menunaikan solat bererti orang tersebut tidak akan berasa gerun ketika melakukan perkara keji dan mungkar. Menurutnya lagi bahawa solat itu merupakan “munajat” (berdialog dan berbisik) seorang hamba terhadap Tuhannya. Sayidina Ali k.w. boleh khusyuk dalam sembahyangnya hingga waktu orang mencabut panah di betisnya, dia tidak terasa apa-apa. Sayidina Umar Al Khattab pernah berkata, “Khusyuk itu bukan tundukkan kepala, tapi khusyuk itu dalam hati.”

Kesimpulannya orang-orang yang takut kepada penciptanya dan menyedari ia hanyalah hamba akan patuh apasaja yang diperintahkan dan disampaikan oleh rasul serta akan khusyuk mendapat nikmat solat seperti firman Allah yang bermaksud:
“Jadikanlah Sabar dan Solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yakni) orang-orang yang meyakini, bahawa mereka akan menemui Tuhannya dan bahawa mereka akan kembali kepadaNya” [Surah Al-Baqarah : ayat 45-46].

SHOLAT menurut AL-QURAN & AS-SUNNAH


Tuntunan Shalat menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Hukum Shalat
Shalat hukumnya fardhu bagi setiap orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mendirikan shalat, sebagai-mana disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’anul Karim. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:
“Maka dirikanlah shalat itu, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa': 103)
“Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar).” (Al-Baqarah: 238)
Dan Rasulullah SAW menempatkannya sebagai rukun yang kedua di antara rukun-rukun Islam yang lima, seba-gaimana sabdanya yang berbunyi:
“Islam itu dibangun berdasarkan rukun yang lima; yaitu: Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan Nabi Muhammad itu utusanNya, mendirikan shalat, membayar zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)
Oleh karena itulah, maka orang yang meninggalkan shalat itu hukumnya kafir dan dilaksanakan hukum bunuh terhadapnya, sedangkan orang yang melalaikan shalat dihukumi sebagai orang fasik.

Keutamaan Shalat
Shalat adalah ibadah yang utama dan berpahala sangat besar. Banyak hadits-hadits yang menerangkan hal itu, akan tetapi dalam kesempatan ini kita cukup menyebutkan beberapa di antaranya sebagai berikut:
1. Ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab:
“Shalat pada waktunya” . (Muttafaq ‘alaih)
2. Sabda Rasulullahshallallaahu alaihi wasallam :
Bagaimana pendapat kamu sekalian, seandainya di depan pintu masuk rumah salah seorang di antara kamu ada sebuah sungai, kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari, apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?” Para sahabat menjawab: “Tidak akan tersisa sedikit pun kotoran di badannya.” Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam : “Maka begitu pulalah perumpamaan shalat lima kali sehari semalam, dengan shalat itu Allah akan menghapus semua dosa.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :
“Tidak ada seorang muslim pun yang ketika shalat fardhu telah tiba kemudian dia berwudhu’ dengan baik dan memperbagus kekhusyu’annya (dalam shalat) serta ru-ku’nya, terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yang telah lalu selama dia tidak melakukan dosa besar, dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu.” (HR. Muslim)
4. Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Pokok segala perkara itu adalah Al-Islam dan tonggak Islam itu adalah shalat, dan puncak Islam itu adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

Peringatan Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat
Ada beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallaahu alaihi wasallam yang merupakan peringatan bagi orang yang meninggal-kan shalat dan mengakhirkannya dari waktu yang semes-tinya, di antaranya:
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturut-kan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)
2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)
3. Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
4. Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang munafik) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka sesungguhnya ia telah kafir.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasai, hadits shahih )
5. Pada suatu hari, Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam berbicara tentang shalat, sabda beliau:
“Barangsiapa menjaga shalatnya maka shalat tersebut akan menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari Kiamat nanti. Dan barangsiapa tidak men-jaga shalatnya, maka dia tidak akan memiliki cahaya, tidak pula bukti serta tidak akan selamat. Kemudian pada hari Kiamat nanti dia akan (dikumpulkan) ber-sama-sama dengan Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay Ibnu Khalaf.” (HR. Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban, hadits shahih )

Syarat-syarat Shalat
Yaitu syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yang ke delapan, maka yang lebih utama dilaksanakan bersamaan dengan takbir) dan wajib bagi orang yang shalat untuk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yang ditinggalkan, maka shalatnya batal.

Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:
1. Islam ; Maka tidak sah shalat yang dilakukan oleh orang kafir, dan tidak diterima. Begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17)
2. Berakal Sehat ; Maka tidaklah wajib shalat itu bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.”(HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih )
3. Baligh ; Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi anak kecil itu hendaknya dipe-rintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih )
4. Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar ; Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (Al-Maidah: 6)
Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci”. (HR. Muslim)
5. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat ; Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah :
“Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)
Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:
“Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.”(HR. Al-Bukhari).
6. Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa': 103)
Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemu-dian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”
7. Menutup aurat ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf: 31)
Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.
8. Niat ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan men-dapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
9. Menghadap Kiblat ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

Rukun-rukun Shalat
Shalat mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satu-nya ditinggalkan, maka batallah shalat tersebut. Berikut ini penjelasannya secara terperinci:
1. Berniat ; Yaitu niat di hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”.(Muttafaq ‘alaih)

Dan niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksana-kan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan, tidak mengapa kalau niat itu sedikit lebih dahulu dari keduanya.
2. Membaca Takbiratul Ihram ; Yaitu dengan lafazh (ucapan): . Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :
“Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara per-buatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )
3. Berdiri bagi yang sanggup ketika melaksana-kan shalat wajib; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu’.”(Al-Baqarah: 238)
Dan berdasarkan Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam kepada Imran bin Hushain:
“Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR. Al-Bukhari)
4. Membaca surat Al-Fatihah tiap rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.”(HR. Al-Bukhari)
5. Ruku’ ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)
Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam kepada seseorang yang tidak benar shalatnya:
” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan ruku’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
6. Bangkit dari ruku’ ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap seseorang yang salah dalam shalat-nya:
” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
7. I’tidal (berdiri setelah bangkit dari ruku’); Hal ini berdasarkan hadits tersebut di atas tadi dan berdasarkan hadits lain yang berbunyi:
“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih )
8. Sujud ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
9. Bangkit dari sujud ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dengan tuma’ninah.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
10. Duduk di antara dua sujud ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih )
11. Tuma’ninah ketika ruku’, sujud, berdiri dan duduk ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam kepada seseorang yang salah dalam melaksanakan shalatnya:
“Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pada saat ruku’, sujud dan duduk sedangkan i’tidal pada saat berdiri. Hakikattuma’ninah itu ialah bahwa orang yang ruku’, sujud, duduk atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yang cukup untuk membaca:
سبحان ربي العظيم وبحمده
“Subhaana robbiyal azhiimi wabihamdih”, satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunnah hukumnya.
12. Membaca tasyahhud akhir serta duduk ; Ada-pun tasyahhudakhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu yang bunyinya:
“Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membacatasyahhud adalah:
‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’
Maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:
“Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR. An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih )
Dan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam”Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim” )
Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga karenatasyahhud akhir itu termasuk rukun.
13. Membaca salam ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )
14. Melakukan rukun-rukun shalat secara ber-urutan ; Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelumtakbiratul ihram dan jangan-lah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam :
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari)
Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya.

Hal-hal Yang Wajib Dilaksanakan Pada Waktu Shalat
Yang dimaksud dengan hal-hal yang wajib dilaksanakan itu ialah yang apabila ditinggalkan dengan sengaja menye-babkan shalat seseorang batal, akan tetapi kalau dikarenakan lupa maka tidak mengapa, namun diganti dengan sujud sahwi. Berikut ini penjelasannya.
1. Membaca takbir perpindahan pada tiap perpindahan dari satu gerakan kepada gerakan lain, seperti ketika bangkit untuk berdiri atau sebaliknya (terkecuali ketika bangkit dari ruku’). Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu:
“Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam selalu membaca takbir ketika me-rendahkan dan mengangkat (kepala) ketika berdiri dan duduk.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya, hadits shahih)
2. Membaca (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) sekali ketika ruku’. Hal ini berdasarkan perkataan Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu anhu dalam haditsnya:
“Nabi Shallallaahu alaihi wasallam membaca di dalam ruku’nya dan di dalam sujudnya membaca: (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi).
3. Membaca (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi) sekali di dalam sujud. Hal ini berdasarkan hadits Hudzaifah di atas.
4. Membaca (Allah Maha Men-dengar hamba yang memujiNya) bagi imam dan orang yang shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam membaca ketika bangkit dari ruku’, kemudian masih dalam keadaan berdiri beliau membaca . (Muttafaq ‘alaih)
5. Membaca (wahai Rabb kami bagi-Mu segala pujian) bagi imam dan makmum dan orang yang shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits yang disebut-kan di atas. Juga berdasarkan sabda RasulullahShallallaahu alaihi wasallam :
“Apabila imam membaca , maka bacalah “……………….” .(Muttafaq ‘alaih)
6. Membaca do’a berikut di antara dua sujud : “Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berikanlah kepadaku petunjuk dan rezki.”
Atau membaca : “Wahai Rabbku ampunilah aku.”
Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam membaca itu.
7. Tasyahhud awal.
8. Duduk untuk melakukan tasyahhud awal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada Rifa’ah bin Rafi': “Apabila kamu melaksanakan shalat, maka bacalah takbir, lalu bacalah apa yang mudah menurut kamu dari ayat Al-Qur’an. Kemudian apabila kamu duduk di per-tengahan shalatmu maka hendaklah disertai tuma’ni-nah, dan duduklah secara iftirasy (bertumpu pada paha kiri), kemudian bacalah tasyahhud.” (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqy dari jalannya, hadits hasan )

SHOLAT sebagai MI’ROJUL MU’MININ


SHOLAT adalah MI’ROJUL MU’MININ
Bagi seorang muslim, Isra Mi’raj adalah suatu peristiwa penting yang merupakan mu’jizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Pada sekitar 14 abad yang lalu tersebut, Rasululloh SAW mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan suci. Beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi (sidratul muntaha) sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Dari peristiwa inilah sholat lima waktu itu mulai diwajibkan.
Bayangkan perjalanan yang sangat-sangat jauh itu hanya ditempuh dalam satu malam. Subhanalloh.
Lalu apa rahasia dibalik itu semua?
Isra berarti perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Perjalanan dari suatu tempat suci ke tempat suci yang lain (masjid ke masjid).
Mi’raj berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa, menembus langit pertama hingga ketujuh berlanjut ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha merupakan terminal/maqom terakhir yang tidak ada suatu makhluk pun yang dapat menembusnya. Bahkan malaikat Jibril pun yang menemani Rasulullah SAW meminta izin untuk tidak meninggalkannya ketika mereka telah mencapai langit ketujuh, karena ia akan terbakar jika memasukinya. Hanya Rasulullah, manusia paling sempurna, makhluk dengan tingkatan ketaatan paling tinggi yang dapat memasukinya untuk menemui sang Pencipta, Allah SWT.
Lalu apa hubungannya dengan kita umat muslim sekarang?
Seperti yang telah dijelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan awal diwajibkan perintah Sholat fardhu, menyembah Allah SWT.
Sedangkan dalam hadits riwayat Bukhari dikatakan bahwa “Sholat itu Mi’rajnya orang mu’min.” Dalam sholat kita juga menghadap/berdialog dengan Allah SWT analogi dengan Mi’raj yang dilakukan oleh Rosululloh SAW.
Nah pertanyaannya apakah sholat kita memang sudah merefleksikan makna Mi’raj tersebut, dengan khusyuk menghadirkan hati.
Ataukah shalat kita hanya sebuah gerak-gerik ucapan bibir, ketika kita mengucapkan lafaz-lafaz ucapan shalat, tanpa mengerti, memahami dan meng¬hayatinya, padahal semua lafaz itu adalah dialog kita kepada Allah SWT, sehingga mungkinkah akan tercipta dialog suci itu bila pengertian, pemahaman dan penghayatan tidak ada pada diri kita.
Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan shalat (seutuhnya). Padahal tidaklah dicatat baginya oleh malaikat Raqib (sang pencatat amal baik) kecuali setengah shalat, sepertiganya, seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

SHOLAT & 5 JENIS MANUSIA


SHOLAT dan 5 Jenis Manusia

SUDAH lama kita bersolat, tetapi nampaknya keajaiban dan jaminan solat yang disebut Allah masih samar-samar dalam kehidupan kita.
Allah memberi jaminan dalam firman-Nya, bermaksud: “Sudah pasti berjaya orang mukmin iaitu orang yang khusyuk dalam solatnya.” (Surah al-Mukminun: 1,2)
Ada beberapa jenis dan golongan serta gaya bersolat di kalangan orang Islam yang semuanya akan mempengaruhi perangai dan cara hidup.

* Jenis Pertama
Hari ini, ramai umat Islam yang tidak bersolat, bahkan ramai juga yang tidak tahu hendak bersolat. Ada yang menafikan kewajipan solat, mereka jatuh kafir sebab itu kadangkala perangainya dengan si kafir tidak ada beza.

* Jenis Kedua
Orang yang melakukan solat secara zahir saja, malah bacaan pun masih tidak betul, taklid buta dan main ikut-ikut orang lain.
Jadi, golongan ini sekejap bersolat, sekejap tidak. Jika ada masa dan emosi baik, dia bersolat. Kalau sibuk dan ada program kenduri, pesta ria, berziarah, bermusafir, letih dan penat, dia tidak bersolat.
Orang ini jatuh fasik. Tidak belajar solat mahupun secara rasmi atau tidak rasmi. Ilmu mengenai solat ialah apa yang dipelajari ketika kecil dan tadika saja. Golongan ini tertolak, bahkan berdosa besar dan hidup dalam keadaan derhaka kepada Allah.

* Jenis Ketiga
Golongan yang melakukan solat cukup lima waktu, tepat ilmunya, faham setiap bacaan solat, Fatihah, doa Iftitah dan tahiyatnya, tetapi tidak dihayati dalam solat itu.
Fikirannya masih melayang mengingatkan perkara dunia tanpa menghayati solat. Golongan ini dikategorikan sebagai solat ‘awamul Muslimin’ dan jika dididik serta ditambah mujahadah (kesungguhan), dia akan berjaya dalam solat.

* Jenis Keempat
Golongan ini baik sedikit daripada golongan sebelumnya, tetapi main tarik tali dalam solatnya.
Sesekali dia khusyuk, sesekali lalai pula. Apabila teringat sesuatu dalam solatnya, teruslah terbawa-bawa, berkhayal dan seterusnya.
Apabila teringat Allah secara tiba-tiba, insaf dan sedarlah semula, cuba dibawa hati serta fikirannya untuk menghayati setiap kalimah dan bacaan dalam solat. Begitulah sehingga selesai solatnya.
Peringkat ini orang terbabit akan mula memasuki zon ‘memelihara solat’, tetapi masih belum seronok dengan solat.

* Jenis Kelima
Golongan yang melakukan solat tepat ilmunya, faham secara langsung bacaan dan setiap lafaz dalam solatnya.
Hati dan fikirannya tidak terbawa-bawa dengan keadaan sekeliling sehingga pekerjaan serta apa pun yang dilakukan atau difikirkan di luar solat itu tidak mempengaruhi so latnya.
Walaupun dia memiliki harta dunia, menjalankan kewajipan dan tugas keduniaan seperti perniagaan, semua itu tidak mempengaruhi solatnya. Hatinya masih dapat memuja Allah dalam solat. Golongan ini disebut orang soleh.
Sebenarnya banyak lagi peringkat solat, tetapi keterbatasan ruangan sekadar lima tahap ini rasanya sudah boleh mu hasabah diri mengenai tahap solat yang kita lakukan.

Jika kita berada di peringkat satu, dua dan tiga, kita sebenarnya belum selamat dan mungkin solat tidak mampu mendapat jaminan Allah.
Ibadat solat boleh membangunkan jiwa dan iman, men jauhkan daripada yang buruk dan merungkai mazmumah (sifat keji), menanamkan mahmudah (sifat terpuji), me lahirkan disiplin hidup dan akhlak yang agung. Semoga solat kita akan berlangsung sebagai mi’raj.

10 GODAAN SYETAN dalam SHOLAT


Sepuluh Godaan Syetan dalam Sholat yang Harus Kita Waspadai

Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

1. WAS-WAS SAAT MELAKUKAN TAKBIRATUL IHRAM
Saat mulai membaca takbiratul ihram “Allahu Akbar”, ia ragu apakah takbir yang dilakukannya itu sudah sah atau belum sah. Sehingga ia langsung mengulanginya lagi dengan membaca takbir. Peristiwa itu terus menerus terulang, terkadang sampai imamnya hampir ruku’.
Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata: “Termasuk tipu daya syetan yang banyak mengganggu mereka adalah was-was dalam bersuci (berwudhu) dan niat atau saat takbiratul ihram dalam sholat”. Was-was itu membuat mereka tersiksa dan tidak tenteram.

2. TIDAK KONSENTRASI SAAT MEMBACA BACAAN SHOLAT
Sahabat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yaitu ‘Utsman bin Abil ‘Ash datang kepada Rasulullah dan mengadu: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah hadir dalam sholatku dan membuat bacaanku salah dan rancau”. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab, “Itulah syaitan yang disebut dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala Akupun melakukan hal itu dan Allah Subhaanahu wa ta’aala menghilangkan gangguan itu dariku” (HR. Muslim)

3. LUPA JUMLAH ROKA’AT YANG TELAH DIKERJAKAN
Abu Hurairah radhiyallaah ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sholat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah kerjakan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru meng ucapkan salam” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. HADIRNYA PIKIRAN YANG MEMALINGKAN KONSENTRASI
Abu Hurairah radhiyallaah ‘anhu berkata: “Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Apabila dikumandangkan azan sholat, syetan akan berlari seraya terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara azan tersebut. Apabila muadzin telah selesai azan, ia kembali lagi. Dan jika iqamat dikumandangkan, ia berlari. Apabila telah selesai iqamat, dia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang yang sholat seraya berkata kepadanya: “Ingatlah apa yang tadinya tidak kamu ingat!”, sehingga orang tersebut tidak tahu berapa rakaat ia sholat” (HR Bukhari)

5. TERGESA-GESA UNTUK MENYELESAIKAN SOLAT
Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya ketergesa-gesaan itu datangnya dari syetan, karena tergesa-gesa adalah sifat gegabah dan sembrono yang menghalang-halangi seseorang untuk berprilaku hati-hati, tenang dan santun serta meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tergesa-gesa muncul kerana dua perilaku buruk,yaitu sembrono dan buru-buru sebelum waktunya”.
Tentu saja bila sholat dalam keadaan tergesa-gesa, maka cara pelaksanaannya asal mengerjakan solat, asal selesai, sudah!!!. Tidak ada ketenangan atau thuma’ninah.
Pada zaman Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam ada orang sholat dengan tergesa-gesa. Akhirnya Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam memerintahkannya untuk mengulanginya lagi karena sholat yang telah ia kerjakan belum sah.
Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda kepadanya: “Apabila kamu sholat, bertakbirlah (takbiratul ihram). Lalu bacalah dari Al-Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar ruku’ (thuma’ninah), lalu bangkitlah dari ruku’ sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud (thuma’ninah) dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat solatmu” (HR Bukhari dan Muslim)

6. MELAKUKAN GERAKAN-GERAKAN YANG TIDAK PERLU
Dahulu ada seorang sahabat yang bermain kerikil ketika sedang tasyahud. Ia membolak-balikkannya. Melihat hal itu, maka Ibnu Umar segera menegurnya selepas solat. “Jangan bermain kerikil ketika sholat karena perbuatan tersebut berasal dari syetan. Tapi kerjakan seperti apa yang dikerjakan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam”. Orang tersebut bertanya: “Apa yang dilakukannya?” Kemudian Ibnu Umar meletakkan tangan kanannya diatas paha kanannya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat atau tempat sujud. “Demikianlah saya melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam”, kata Ibnu Umar. (HR Tirmidzi)

7. MENENGOK KE KANAN ATAU KE KIRI KETIKA SHOLAT
Dengan sadar atau tidak, seseorang yang sedang sholat memandang ke kiri atau ke kanan, itulah akibat godaan syetan penggoda. Karena itu, setelah takbiratul ihram, pusatkan pandangan pada satu titik. Yaitu tempat sujud. Sehingga perhatian kita menjadi fokus dan tidak mudah dicuri oleh syetan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallaah ‘anhaa, ia berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tentang hukum menengok ketika sholat”. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab, “Itu adalah curian syetan atas sholat seorang hamba”. (HR Bukhari)

8. MENGUAP DAN MENGANTUK
Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Menguap ketika sholat itu dari syetan. Karena itu bila kalian ingin menguap, maka tahanlah sebisa mungkin” (HR Thabrani).
Dalam riwayat lain Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Adapun menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah seseorang mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Apabila ia berkata ha… berarti syaitan tertawa dalam mulutnya” (HR Bukhari dan Muslim)

9. BERSIN BERULANG KALI SAAT SHOLAT
Syetan ingin mengganggu kekhusyukkan sholat dengan bersin, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud: “Menguap dan bersin dalam sholat itu dari syetan” (Riwayat Thabrani).
Ibnu Hajar menguraikan pernyataan Ibnu Mas’ud radhiyallaah ‘anhu, “Bersin yang tidak disenangi Allah Subhaanahu wa ta’aala adalah yang terjadi dalam sholat, sedangkan bersin di luar solat itu tetap disenangi Allah Subhaanahu wa ta’aala. Hal itu tidak lain karena syetan memang ingin mengganggu sholat seseorang dengan berbagai cara”.

10. TERASA INGIN BUANG ANGIN ATAU BUANG AIR
Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bimbang atas apa yang dirasakan di perutnya apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia yakin telah mendengar suara (keluarnya angin) atau mencium baunya” (HR Muslim).
Berbahagialah orang-orang muslim yang selama ini terbebas dari berbagai macam gangguan syetan dalam solat. Semoga kita semua dibebaskan oleh Allah Subhaa nahu wa ta’aala dari gangguan-gangguan tersebut. Dan bagi yang merasakan gangguan tersebut, sebagian atau keseluruhannya, janganlah putus asa untuk berjihad melawan godaan syetan yang terkutuk.

Semoga bermanfaat.