Shalat Mi’rojul Mu’minin

 SHOLAT SEBAGAI MI’RAJ KAUM MU’MIN

Setelah mendengar khutbah Jum’at (khotib: Ust. Umar Shahab) kemarin jadi pengen nulis tentang peristiwa Isra Mi’raj.

Bagi seorang muslim, Isra Mi’raj adalah suatu peristiwa penting yang merupakan mu’jizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Pada sekitar 14 abad yang lalu tersebut, Rasululloh SAW mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan suci. Beliau diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi (sidratul muntaha) sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Dari peristiwa inilah sholat lima waktu itu mulai diwajibkan.

Bayangkan perjalanan yang sangat-sangat jauh itu hanya ditempuh dalam satu malam. Subhanalloh.

Lalu apa rahasia dibalik itu semua?

Isra berarti perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Perjalanan dari suatu tempat suci ke tempat suci yang lain (masjid ke masjid).

Mi’raj berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa, menembus langit pertama hingga ketujuh berlanjut ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha merupakan terminal/maqom terakhir yang tidak ada suatu makhluk pun yang dapat menembusnya. Bahkan malaikat Jibril pun yang menemani Rasulullah SAW meminta izin untuk tidak meninggalkannya ketika mereka telah mencapai langit ketujuh, karena ia akan terbakar jika memasukinya. Hanya Rasulullah, manusia paling sempurna, makhluk dengan tingkatan ketaatan paling tinggi yang dapat memasukinya untuk menemui sang Pencipta, Allah SWT.

Lalu apa hubungannya dengan kita umat muslim sekarang?

Seperti yang telah dijelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan awal diwajibkan perintah Sholat fardhu, menyembah Allah SWT.

Sedangkan dalam hadits riwayat Bukhari dikatakan bahwa “Sholat itu Mi’rajnya orang mu’min.” Dalam sholat kita juga menghadap/berdialog dengan Allah SWT analogi dengan Mi’raj yang dilakukan oleh Rosululloh SAW.

Nah pertanyaannya apakah sholat kita memang sudah merefleksikan makna Mi’raj tersebut, dengan khusyuk menghadirkan hati.

Ataukah shalat kita hanya sebuah gerak-gerik ucapan bibir, ketika kita mengucapkan lafaz-lafaz ucapan shalat, tanpa mengerti, memahami dan meng­hayatinya, padahal semua lafaz itu adalah dialog kita kepada Allah SWT, sehingga mungkinkah akan tercipta dialog suci itu bila pengertian, pemahaman dan penghayatan tidak ada pada diri kita.

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya pelaku ibadah itu mengira telah menegakkan shalat (seutuhnya). Padahal tidaklah dicatat baginya oleh malaikat Raqib (sang pencatat amal baik) kecuali setengah shalat, sepertiganya, seperempatnya, atau seperlimanya, sampai sepersepuluhnya.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s