Zakat, Infaq, Shadaqah

PEMBERDAYAAN UMMAT

DENGAN ZAKAT, INFAQ DAN SHODAQOH

 

 MUQODDIMAH

Zakat merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, setrategis dan menentukan, baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun sisi pembangunan kesejahteraan ummat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat merupakan bagian dari rukun Islam yang lima, yang ma’lumun minaddin biddhorurah ( yang diketahui dengan otomatis dalam agama ) sehingga merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang. Di dalam al-Qur’an terdapat duapuluh tujuh ayat yang menerangkan kewajiban berzakat dalam berbagai bentuk kata, banyak ayat memuji orang-orang yang mau mengeluarkan zakat, dan sebaliknya banyak pula ayat yang mengecam dengan keras orang-orang yang enggan berzakat, bahkan Abu Bakar Asshiddiq dengan ijma’ para shahabat memerangi orang-orang yang menolak zakat, karena dipandang sebagai suatu kedurhakaan terhadap agama.

Bila dikelola secara professional zakat dengan infaq serta shadaqoh juga sangat setrategis dan menentukan dalam pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan ummat, memberikan beasiswa bagi anak-anak yang putus sekolah, membuka sebanyak mungkin lapangan pekerjaan, mengembangkan etika dan sisitim bisnis Islamy, memberikan modal usaha kecil dan menengah, pengembangan dakwah dan pendidikan serta sarana-sarana sosial masyarakat dan masih banyak  lagi lainnya.

Sayangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat untuk berzakat masih sangat rendah, sehingga banyak mereka yang mestinya menjadi muzakki belum menunaikan kewajibannya, bahkan tidak sedikit yang beranggapan sudah cukup dengan mengeluarkan zakat fithrah setahun sekali.

Di sisi lain yang patut disyukuri adalah perkembangan zakat secara kelembagaan di Indonesia, dengan disahkannya Undang-Undang yang berkaitan dengan masalah zakat  No. 38 tahun 1999 dan ditindaklanjujti dengan Keputusan Mentri Agama ( KMA ) tentang pelaksanaan UU No. 38 tahun 1999 tersebut. Bila hal ini secara konsisten diterapkan dengan penerapan sangsi yang efektif, pengurangan pajak bagi yang sudah berzakat disertai sosialisasi yang bagus, insya Allah akan mampu mendongkrak peningkatan penerimaan zakat ummat.

PENGERTIAN ZAKAT

Ditinjau dari segi bahasa zakat mempunyai beberapa arti, yaitu al-barokah (keberkahan ), an-nama’ ( pertumbuhan ), at-thoharh ( kesucian ), dan as-sholah (keberesan ). Sedang menurut istilah zakat adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu,yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu pula.

Dari keterangan diatas jelas bahwa harta yang dizakati akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang dan bertambah, suci serta beres. Seperti yang dinyatakan oelh firman Allah dalam suratat-Taubah ayat 103 dan Ar-Rum 39 :

 “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..” ( 9 : 103 )

  “ Adapun yang engkau berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah (perbuatan ) orang-orang yang melipatgandakan hartanya “ ( 30 : 39 ).

Istilah lain yang kadang dipakai dalam al-Qur’an untuk zakat adalah infaq ( 9 : 34)

 Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka ( bahwa mereka akan mendapat   ) siksa yang pedih .

  dan juga shodaqoh ( 9 : 60 )

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai satu ketentuan yang diwajibkan oleh Allah, dan Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

  serta haq (  6 : 141 ).

Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya

 Di beberapa ayat lain, penggunaan isilah infaq untuk zakat karena memang dengan berzakat seorang muzakki menyerahkan sebagian hartanya untuk kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah, dan disebut shadaqoh karena zakat menjadi bukti kebenaran iman sesorang dan sarana bertaqorrub kepada Allah, serta disebut haq, karena dalam harta kita memang ada hak orang lain yang harus ditunaikan.

 

HUKUM DAN DALIL-DALIL TENTANG ZAKAT

             Zakat wajib hukumnya bagi yang sudah memenuhi syarat, terutama nishab dan haul. Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang bila diingkari menyebabkan kekufuran. Zakat sering disebut di dalam al-Qur’an yang menunjukkan kepentingan dan fungsinya dalam kehidupan. Mereka yang menunaikan zakat mendapat pujian dan janji kemenangan dunia akhirat, sedang mereka yang enggan dan mengingkarinya mendapat ancaman dan kehinaan di dunia maupun akhirat.

 

            Berikut ini beberapa dalil yang berkaitan dengan zakat :

  1. “Ambillah dari harta mereka sebagai shodaqoh ( zakat ) yang dengannya kamu akan membersihkan dan mensucikan mereka “ ( At-Taubah : 103 )
  2. “ Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menerima shodaqoh serta mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, maka kemudian Allah mengembangkannya sebagaimana salah seorang diantara kamu mengembangkan seekor anak kudanya, sehingga sesuap harta ( makanan ) akan menjadi seperti gunung uhud “ ( H.R. Ahmad dan Tirmidzi ).
  3. “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak menginfaqkan nya di jalan Allah, maka berilah mereka kabar gembira dengan siksa yang pedih. Yaitu pada hari dia dipanaskan diatasnya di dalam nerakan Jahannam maka dengannya mereka disetrika keningnya, lambung sampingnya serta punggungnya sambil dikatakan inilah yang kalian timbun untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah ( akibat ) apa yang kalian timbun itu.” ( At-Taubah : 34 – 35 )

 

Ancaman bagi orang yang enggan berzakat sangat keras karena lantaran mereka enggan berzakat banyak orang miskin menderita dalam hidupnya, kegiatan dakwah, jihad dan pendidikan terganggu, kriminalaitas meningkat, kedengkian dan kebencian tersebar luas, sarana-sarana sosial umum tidak dapat diwujudkan serta jurang kesenjangan ekonomi semakin tajam antara yang kaya dan miskin.

Karena itu bagi mereka yang berkewajiban zakat namun menolak membayarnya, isntitusi zakat yang resmi ( pemerintah ) dibenarkan untuk mengambil/merampas hartanya, bahkan Negara boleh memerangi mereka, seperti yang terjadi pada zaman kholifah Abu Bakar Asshiddiq.

 

 

HIKMAH DAN MANFAAT ZAKAT

             Hikmah dan manfaat zakat bagi muzakki, mustahiq, masyarakat maupun harta benda sangat banyak, diantaranya :

  1. Perwujudan keimanan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya,  menumbuhkan akhlaq mulia dengan rasa kemanusiaan tinggi, menghilangkan sifat kikir, rakus dan materialistis, menumbuhkan ketenangan hidup sekaligus membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki.
  2. Menolong,membina dan membantu para fakir miskin kearah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat menunaikan kewajiban agama maupun masyarakat, terjauh dari kekufuran, menghilangkan rasa iri dengki yang mungkin timbul dari orang-orang fakir miskin kepada si kaya. Memberikan jaminan sosial bagi mereka dan menghilangkan kesenjangan ekonomi diantara si kaya dan si muskin.
  3. Sebagai pilar amal jama’I antara orang kaya dengan para pejuang, du’at dalam berdakwah dan memajukan kesejahteraan umum.
  4. Sebagai sumber dana bagi pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh ummat Islam ( lembaga pendidikan, masjid, rumah sakit dll ).
  5. Memasyarakatkan etika bisnis islamy.
  6. Sistim distribusi pemerataan pendapatan ummat, agar kekayaan tidak terkumpul di lingkungan orang-orang kaya saja, yang menyebabkan pengangguran dan inflasi.
  7. Mendorong ummat Islam untuk bekerja keras, produktif supaya bisa berzakat, membuka lapangan pekerjaan, memperbanyak penguasan asset ummat.

 

ZAKAT SEBAGAI PILAR KEADILAN SOSIAL

                       Untuk membangun keadilan social harus ditegakkan 3 pilar utama dan sekaligus dijauhkan dari 3 pangkal bencana, sesuai dengan isyarat al-Qur’an surah An-Nahl : 90, yaitu : Keadilan , Ihsan ( kebajikan ) dan solideritas social. Sedang bencana yang harus dijauhkan  dari masyarakat adalah fakhsya’ ( kekejian ) mungkar (kemungkaran ) baghy ( kedzaliman ).

 Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa ayat ini telah mencakup semua perintah dan larangan dalam Islam.

Prinsip keadilan ekonomi dalam Islam menekankan bahwa harta tidak boleh terpusat pada sekelompok kecil orang kaya saja al- Hasyr : 7 .

 

SUPAYA TIDAK HANYA BERPUTAR DIANTARA ORANG-ORANG KAYA DIANTARA KAMU

Karena akan mengakibatkan ketimpanagan ekonomi, kesenjangan sosial, proses kemiskinan dan pemiskinan yang dahsyat. Islam juga menegaskan bahwa kemiskinan bukan semata-mata disebabkan oleh faktor kemalasan individu, tetapi juga disebabkan oleh struktur ekonomi yang salah, ketiadaan usaha bersama dan kepedulian untuk mengangkat orang-orang lemah, kerakusan pada sumber-sumber alam serta kecintaan pada harta yang berlebihan. (Al-Fajr : 17 – 20 ).

 Karena itu Islam menegaskan bahwa mengentas kemiskinan adalah merupakan tanggungjawab dan tugas bersama seluruh komponen ummat, dinataranya dengan merealisasikan lembaga zakat yang kokoh.

Zakat infaq dan shadaqoh bisa menjadi solusi efektif untuk mengentas bangsa Indonesia dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Saat ini angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi, Versi Laporan Bang Dunia tahun 2000/2001 penduduk Indonesia yang masih hidup dibawah garis kemiskinan pada tahun 1996 mencapai 11,3 %,  1998  meningkat menjadi 20,3 %, tahun 1999 membengkak 66,1 % yang berarti sama dengan 136,8 juta jiwa, dan hingga saat ini belum ada penurunan angka kemiskinan yang signifikan. Masalah ini semakin diperparah dengan membangkakknya angka pengangguran  usia kerja, angka drop out usia sekolah, banyaknya PHK. Sementara itu pemerintah masih sangat tergantung dengan hutang luar negri yang terus membengkak (Soekarno mewariskan hutang US$ 2 M, Soeharto US$ 150 M dan sekarang mencapai US$ 262 M, meskipun demikian kiblat ekonomi kita masih ke Barat yang liberal yang sudah ternyata semakin menyengsarakan. Belum lagi masalah kesenjangan ekonomi antara kaya miskin, antara pengusaha besar dan kecil menengah, antara kawasan Indonesia Timur dan Barat, antara kota besar dan kecil yang sangat rawan konflik.

Zakat Infaq dan shadaqoh sebagai instrument ekonomi yang didominasi nilai-nilai sosial, akan sangat efektif mensejahterakan ummat karena mempunyai sasaran yang jelas ( asnaf stamaniah ) yang memang merupakan orang-orang musthadh’afin, tanpa ketentuan birokratis yang pelik, bebas bunga dan keterikatan menggembalikan modal tentu sangat dinanti oleh masyarakat lemah ekonomi. Terlebih bila kenyataannnya bahwa hampir 90 % penduduk Indonesia adalah ummat Islam yang pasti lebih bisa menerima keberadan zakat dismping potensi zakat ynag sangat besar dari populasi ummat yang berkewajiban berzakat. Zakat juga sangat potensial untuk mengembangkan etika bisnis islamy, yang bebas riba, bersih dan sesuai syareat, ramah lingkungan dan berkelanjutan, maka tantangan bagi para pengelola zakat adalah bagaimana mengelola zakat dari konsumtif menjadi produktif.

 

KENDALA DAN TANTANGAN

             Masalah utama yang menghambat pengembangan potensi zakat di Indonesia adalah minimnya kesadaran masyarakat akan kewajiban zakat, sebagian besar tidak tahu bahwa mereka harus mengeluarkan zakat mal/kekayaan mereka dari berbagai profesi yang mereka tekuni, sebagian sudah faham namun enggan melaksanakan karena dianggap merugikan dan sebagian lagi dikarenakan pemahaman yang sempit, tradisonal dan tekstual terhadap harta benda azzakawiyah ( yang dikenai zakat ) hanya terbatas pada apa yang sudah tertera dalam buku-buku fiqih klasik tanpa mengembangkan kemungkinan mendapatkan sumber zakat dari perkembangan sistim ekonomi modern yang sangat luas dan cepat berkembang. Akibatnya zakat profesi tidak terjamah, sector jasa lepas dari kwajiban zakat, saham, surat-surat berharga dll yang nilainya sangat besar sebagai sumber penghasilan zakat. Hal ini semakin parah bila dalil-dalil sengaja dicari atas dasar keingian untuk menghindari zakat sehingga hukum hanya dipermainkan dan kesejahteraan masyarakat hanya tetap sebagai utopia.

Lemahnya kesadaran bezakat ini juga disebabkan oleh ghozwul fikri, sehingga ummat Islam menerapkan gaya hidup orang kafir yang penuh isrof dan tabdzir, terlalu memaksakan diri melengkapi hal-hall sekunder dan seleera demi prestise, akhirnya tidak tersisa untuk berzakat. Banyaknya pungutan-pungutan yang memberatkan ummat Islam (pajak ) juga menjadi penghambat zakat.

Hambatan lainnya adalah tidak banyaknya Lembaga/Badan Amil Zakat yang benar-benar kredibel, dapat dipercaya, transparan, amanah, professional dan mampu mengembangkan potensi zakat untuk tujuan-tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lemah, membangun sarana umum, mencerdaskan ummat dll. Sehingga masyarakat tidak menaruh kepercayaan kepada mereka, pembagian zakat kepada mustahik yang tidak proporsional dan adil. Karena itu peningkatan kwalitas amil dan kelembagaan zakat harus diprioritaskan, untuk memaksimalkan tujuan ini.

Satu hal lagi yang patut diperhatikan adalah efektifitas penerapan sangsi hukum dari UU tentang Zakat, karena peraturan perundang-undangan tanpa sangsi sama dengan macan ompong yang akan banyak disepelekan orang.

Maka bila profesionalitas, transparansi dari LAZ bisa ditingkatkan, kalau perlu hanya LAZ yang terakreditasi yang berhak menghimpun dan mendistribusikan zakat,  gerakan penyadaran digencarkan, UU diterapkan, sangsi secara konsisten dijalankan insya Allah zakat akan bila menjadi solusi permasalahan ekonomi ummat.

Dari sini masyarakat perlu difahamkan bahwa kesejahteraan adalah hak setiap individu, buka hanya monopoli sekelompok orang kaya saja, karena itu masyarakat harus bisa belajar hidup berjamaah dalam segala hal termasuk dalam mengatasi persoalan-persoalan sosial mereka.

 

HARTA SEBAGAI SUMBER ZAKAT

Secara umum dan global Al-Qur’an menyatakan bahwa zakat itu diambil dari setiap harta yang kita miliki ( At-Taubah : 103 )

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan harta mereka.

 

dan juga diambil dari setiap hasil usaha yang baik dan halal ( Al-Baqoroh : 267 ).

Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah ( di jalan Allah ) sebagian dari hasil usahamu yang baik-bauk dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.

Kemudian sunnah nabi menjelaskan rincian harta yang harus dikeluarkan zakatny adalah:

a. Mata uang

b. Perniagaan

c. Ternak ( onta, sapi dan kambing )

d. Pertanian ( buah –buahan dan biji-bijian, khususnya yang menjadi makanan pokok)

e. Emas dan perak ( barang tambang )

f. Rikaz ( barang temuan ).

 

Namun bila dikembalikan kepada dalil ijmal seperti At-Taubah 103 dan Al-Baqoroh : 267, maka pada prinsipnya semua harta dan penghasilan wajib dizakati bila sudah sampai nishab, karena disetiap harta kita terdapat hak orang lain ( yang tertahan dan yang meminta-minta ) yang harus kita tunaikan kepada mereka ( Al-Ma’arij : 24 -25).

Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedian bagian tertentu.  Bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa ( yang tidakmahu meminta ).

 

Karena zakat juga merupakan salah satu bentuk distribusi pendapatan serta pemerataan kekayaan agar tidak terjadi ketimpangan dan kesenjangan, maka sangat naïf bila hanya dibatasi seperti apa yang dirinci oleh Rasulullah saja tanpa mempertimbangkan sektor-sektor pendapatan ekonomi modern yang sangat besar.( Al-Hasyr : 7 ).

 

Zakat juga dibutuhkan untuk membersihkan harta kita, karena itu semua harta orang kaya harus dikenakan zakat. Islam mengajarkan tentang keadilan, dan adalah sangat tidak adil bila petani yang panen gabah 7 kwintal harus mengeluarkan zakatnya 10 %, sementara petani the dengan ribuah hektar, semangka, para komlomerat, arsitek, dokter yang penghasilannya sangat tinggi bebas dari ketentuan zakat.

 

PERSYARATAN HARTA YANG MENJADI OBJEK ZAKAT

Setiap kewajiban dalam Islam pasti ada standard umum yang harus dipenuhi, termasuk dalam zakat, bila ketentuan-ketentuan ini belum terpenuhi maka zakat tidak wajib ditunaikan, namun disamping itu Islam tetap membuka pintu untuk derma melalui infaq ( Ali Imron : 133 – 134 , Faathir : 29 dll )

Juga shodaqoh yang meliputi hal-hal yang bersifat materi maupun non materi, seperti amalan ( tasbih, tahlil, takbir, bahkan senyum).

Syarat-syarat kewajiban zakat yang dikenakan pada harta adalah :

  1. Harta yang didapatkan dengan baik dan halal, karena Allah tidak akan menerima harta yang haram/bathil ( Al-Baqoroh : 267, 188 Annisa’ : 29 ).
  2. Harta yang berkembang dan berpotensi untuk berkembang. Kekayaan yang tidak berkembang dan hanya untuk kepentingan pribadi tidak wajib dizakati
  3. Milik penuh, berada dibawah control dan kekuasaannya.
  4. Harta yang telah mencapai nishab, karena pada prinsipnya zakat adalah harta yang diberikan dari orang kaya kepada orang miskin, dan nishab menjadi salah satu standard kekayaan seseorang.
  5. Haul ( sampai satu tahun kepemilikan/usaha ) kecuali harta pertanian yang harus dikeluarkan setiap panen.
  6. Harta yang telah melebihi dari kebutuhan pokok sandang pangan papan si pemilik yang bila tidak terpenuhi akan memberikan dakpak bahaya bagi dirinya. ( al-Baqoroh : 219 ).

PEMASUKAN ZAKAT

Mata uang yang telah mencapai nishab ( batas minimum berzakat ) senilai dengan 85 gram emas atau 595 gram perak, setelah mencapai haul ( satu tahun ) dikenakan zakat 2,5 %.

  1. Piutang ( pinjaman kepada orang lain yang melebihi nishab serta lewat satu tahun) maka pemiliknya diwajibkan berzakat 2,5 %.
  2. Profesi, hasil kerja yangdikumpulkan selama satu tahun serta digabung dengan income lainnya, dan telah mencapai nishab senilai 85 gram emas, setelah dikurangi pengeluaran kebutuhan sehari-hari, zakatnya 2,5 %. Pengeluaran zakat juga bisa ditunaikan setiap bulan, setelah menerima penghasilan. Zakat profesi ini juga bisa dianalogikan dengan zakat pertanian, dikeluarkan setiap penerimaan penghasilan ( bulan ) bila telah mencapai nishab ( senilai 700 kg gabah ) dengan zakat 5 – 10 %.
  3. Saham dan suart-surat berharga, zakatnya juga 2,5 % setahun karena merupakan harta yang berkembang/produktif ( maalun naamin ).
  4. Perhiasan emas wanita  juga dizakati 2,5 % bila mencapai nishab, tetapi hanya sekali seumur hidup.
  5. Apartemen, perkantoran, tanah sewa juga dizakati 2,5 % bila ada yang menyewa, namun bila nganggur tidak perlu dizakati. Karena prinsipnya yang dizakati adalah harta yang berkembang.
  6. Harta perniagaan. Dengan menjumlah asset ditambah dengan laba bersih serta dikurangi piutang. Zakatnya 2,5 % setiap tahun ).
  7. Peternakan, yang terdiri dari Onta, sapid an kambing, dizakati setiap tahun setelah mencapai nishab. ( Onta mulai lima ekor dengan zakat seekor kambing. Sapi mulai 30 ekor dengan zakat tabi’I ( sapi 1 thn ) dan 40 ekor dengan zakat musinnah ( sapi 2 thn ), sedang kambing mulai 40 ekor s/d 120 dengan zakat 1 ekor kambing, 121 – 200, zakatnya 2 ekor kambing berikutnya setiap tambah 100 ekor zakatnya 1 ekor kambing.
  8. Madu, Jika mencapai 670 Kg, setelah dipotong biaya produksi zakatnya 10 %.
  9. Barang tambang, minyak, gas, emas, tembaga, timah, hingga pasir dan batu dengan zakat 2,5 % pertahun.
  10. Hasil laut/perikanan setelah dijual dan mencapai nishab senilai harga 670 kg gabah, wajib dizakati 2.5 %.
  11. Zakat fithrah, setiap indifidu muslim yang mempunyai kelebihan makanan pada malam lebaran, dikeluarkan sejak Romadhan hingga menjelang sholat @iedul Fithri sebanyak 1 sha’ ( 2,5 Kg ).

 

YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT ( ASHNAF TSAMANIAH )

Seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam Surah Attaubah ayat 60 ada 8 ( delapan) golongan yang berhak menerima zakat,mereka itu adalah :

  1. Fakir
  2. Miskin
  3. Amil
  4. Mu’allaf ( yang lemah iman, baru masik Islam atau diharapkan bisa masuk Islam )
  5. Budak ( tawanan perang/Sandra ).
  6. Ghorim ( yang dijerat hutang dan belum mampu membayar )
  7. Sabilillah
  8. Ibnu sabil ( musafir yang kehabisan bekal, anak jalanan, gelandangan dll ).

 

Yang Tidak boleh Menerima Zakat

Orang kaya yang berkecukupan

  1. Orang yang masih kuat dan mampu berusaha, kecuali kalau ternyata hasilnya masih tidak mencukupi
  2. Orang kafir, kecuali yang diharapkan akan masuk Islam
  3. Mere yang nafaqohnya dalam tanggungan muzakki ( orang tua, kakek, nenak, anak, cucu dll ).

KEHARUSAN INTEGRALITAS DAN TOTALITAS BERISLAM

Ajaran Islam saling berkaitan satu dengan yang lain, saling melengkapi dan menguatkan, menelantarkan sebagian Islam dan menerapkan sebagian lainnya akan menyebabkan tidak sempurnanya berislam serta rapuhnya bangunan Islam lain, seperti sebuah bangunan ( Islam dibangun atas lima perkara ), bangunan pastilah saling menguatkan antara pilar-pilar utamanya. Karena itu Allah memerintahkan kepada kita untuk berislam secara kaaffah .

“ Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaaffah ( menyeluruh ) dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu bagimu adalah musuh yang nyata “ ( al-Baqoroh : 208 ).

 

Allah juga mengecam bani Isroil karena menerapkan sebagian ajaran al-Kitab dan mengkufuri sebagian yang lain, sehingga Allah membalas perbuatan mereka dengan kehinaan di dunia serta siksa pedih di akhirat. ( al-Baqoroh : 85 – 86 )

Demikian pula zakat, perintah ini tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari perintah dan ajaran Allah yang lain. Zakat baru akan berhasil bila kita secara integral dan total menerapkan Islam. Tanpa ada perubahan yang hakiki dalam berislam, dengan mewujudkan masyarakat Islam yang berpedoman pada hukum-hukum Allah SWT, menjalankan perintahNya serta menjauhi larangan-Nya pastilah sangat sulit untuk membuat penerapan zakat bisa berhasil. Zakat tidak akan efektif dan fungsional secara optimal di tengah-tengah masyarakat yang menyia-nyiakan ajaran Allah, melanggar larangan-Nya, mempermainkan hukum-hukum-Nya serta tidak terikan dengan akhlaq Islam.

Di banyak ayat al-Qur’an kita menemukan perintah zakat berkaitan dengan perintah sholat  ;

“ Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat “, Bahkan Abu Bakar pernah berkata “ Demi Allah saya akan perangi mereka yang memisahkan sholat dengan zakat, karena Allah sendiri tidak memisahkan keduanya “. Ini isyarat yang gamblang bahwa zakat akan bisa berhasil bila masyarakat muslim sudah menjadi penegak sholat. Sebaliknya zakat tidak akan berhasil bila masyarakat masih menelantarkan sholat, enggan amar ma’ruf nahi mungkar, membiarkan kekejian dan kemungkaran, tidak peduli pada kerusakan moral dll ( At-Taubah : 71 ).

Zakat juga tidak akan berhasil di tengah-tengah masyarakat yang menelantarkan syuro, yang tertindas dibawah kepemimpinan para tiran (Asy-Syuro : 37 ).

Zakat tidak akan berhasil di masyarakat yang buruk sholatnya, menyia-nyiakan waktu dengan hal yang tidak berguna, perbuatan keji menyebar, biasa melanggar janji (Al-Mu’minun : 1 – 9 ).

Islam mengajarkan kita untuk giat bekerja, meningkatkan produktifitas, hidup sederhana dan berhemat, memanfaatkan waktu dengan efektif dan efisien, melarang tabdzir ( menyia-nyiakan kekayaan ), isrof, bermain-main dengan hal yang tidak berguna, merusak kesehatan fisik dan mental karena kita sebagai ummat Islam mempunyai banyaktugas dan kewajiban serta amanah yang kita embank, berjuang, berdakwah, berderma dan membangun peradaban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s