Adab Membaca Al Quran

Adab Membaca Al Quran

Al Quran sebagai sebuah kitab suci tentu berbeda dengan kitab-kitab lain yang bukan kitab suci. Kesucian al Quran sebagai kalamullah adalah kesucian mutlak, dalam arti kesuciannya meliputi segala hal, baik itu ditinjau dari segi isi, makna, bahkan kitab al Quran yang telah dibukukan itu pun merupakan kitab yang suci yang tiada boleh menyentuhnya kecuali orang yang suci pula. Untuk itu tentu ketika ingin membaca al Quran diperlukan adab, etika, dan tata krama, yang di dalamnya mencerminkan secara jelas bentuk pengagungan dan pemuliaan terhadap kitab al Quran.

Selama ini banyak kalangan yang mengira bahwa kitab al Quran atau al Quran yang dibukukan, tidak sama dengan kemuliaan al Quran sebagai wahyu Allah yang tidak dibukukan (isi dan kandungan). Karena itu banyak yang memegang dan membaca kitab al Quran tanpa bersuci terlebih dahulu. Ini tentu tidak tepat. Karena menyikapi sesuatu yang suci harus melalui jalan yang suci, itu kaidah. Seperti kita menyikapi lantai masjid yang suci, maka kaki, tubuh, dan pakaian kitapun harus suci. Begitu pula dengan al Quran. Padahal al Quran adalah kitab yang suci, kesuciannya mutlak meliputi seluruh segi, dan cara paling baik untuk menjaga kesuciannya adalah dengan bersuci ketika memegang dan membacanya. Karena itu adab membaca al Quran yang pertama dan paling utama adalah bersuci.

Mengenai adab ini kita bisa merujuk qaul Imam Nawawi dalam kitab beliau yang berjudul Al Tibyan fi Adab Hamalat Al Quran. Beliau berkata panjang lebar mengenai adab ini:

“Diutamakan bagi orang yang membaca al Quran dalam keadaan suci. Jika membaca al Quran dalam keadaan berhadas, maka hukumnya harus berdasar ijma’ul muslimin. Hadits-hadits berkenaan dengan perkara tersebut sudah dimaklumi. Imam Haramain berkata: “Tidaklah boleh dikatakan dia melakukan sesuatu yang makruh, tetapi meninggal yang lebih utama.” Jika tidak menemukan air, dia bertayamum. Wanita mustahadhah dalam waktu yang dianggap suci mempunyai hukum yang sama dengan hukum orang yang berhadas.

Sementara orang yang berjunub dan wanita yang haid, maka haram atas keduanya membaca al Quran, sama saja satu ayat atau kurang dari satu ayat. Bagi keduanya diharuskan membaca al Quran di dalam hati tanpa mengucapkannya dan boleh memandang ke dalam mushaf. Ijma` muslim mengharuskan bagi yang berjunub dan yang haid mengucapkan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan membaca shalawat atas Nabi SAW serta dzikir-dzikir lainnya. Para sahabat kami berkata, jika orang yang berjunub dan perempuan yang haid berkata: “Khudzil kitaaba biquwwatin” sedang tujuannya adalah selain al Quran, maka hukumnya boleh.”

Demikian pula hukumnya upaya yang serupa dengan itu. Keduanya boleh mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji’uun”. Ketika mendapat musibah, jika tidak bermaksud membaca al Quran. Para sahabat kami dari Khurasan berkata, ketika menaiki kendaraan, keduanya boleh mengucapkan:

“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,” (Q.S. al Zukhruf: 13).

Hukum tersebut berlaku selagi tidak bermaksud membaca al Quran. Imam Haramain berkata, apabila orang yang berjunub mengucapkan: “Bismillah wal hamdulillah,” maka jika dia bermaksud membaca al Quran, dia durhaka. Jika dia bermaksud berdzikir atau tidak bermaksud membaca apa-apa, dia tidak berdosa.

Jika orang yang berjunub atau perempuan yang haid tidak menemukan air, maka dia bertayamun dan diharuskan baginya membaca al Quran, sembahyang serta lainnya. Jika dia berhadas, haram atasnya mengerjakan sembahyang dan tidak haram membaca dan duduk di dalam masjid atau lainnya yang tidak haram atas orang yang berhadas sebagaimana jika dia mandi, kemudian berhadas. Ini adalah sesuatu yang dipersoalkan dan dianggap aneh. Maka dikatakan, orang berjunub dilarang sembahyang dan tidak dilarang membaca al Quran dan duduk di masjid tanpa keperluan, bagaimana bentuknya? Inilah bentuknya. Kemudian yang lebih dekat ialah tidak ada bezanya antara tayamum orang yang berjunub di kota tempat tinggalnya dan ketika musafir.Seorang ulama pengikut Imam Syafi`i berkata, bahawa jika dia bertayamum di kota tempat tinggalnya, maka diharuskan sembahyang dan tidak membaca al Quran sesudahnya atau duduk di masjid. Pendapat yang lebih sahih ialah boleh melakukan itu sebagaimana telah saya kemukakan. Sekiranya dia bertayamum, kemudian sembahyang dan membaca al Quran, kemudian ingin bertayamum kerana berhadas atau untuk mengerjakan sembahyang fardhu lainnya maka tidak haram atasnya membaca al Quran menurut madzhab yang sahih dan terpilih. (Al Tibyan fi Adab Hamalat Al Quran).

Adab selanjutnya dalam membaca al Quran adalah mengusahakan membaca al Quran di tempat yang baik, dan jangan di tempat yang tidak baik seperti kamar mandi, dan sebagainya. Dan disunnahkan menghadap kiblat, karena sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”

Imam Nawawi telah berkata dalam kitabnya mengenai masalah ini. beliau berkata:

“Hendaklah dia duduk dengan khusyuk dan tenang sambil menundukkan kepalanya dan duduk sendiri dengan adab baik dan tunduk seperti duduknya di hadapan gurunya, inilah yang paling sempurna. Diharuskan baginya membaca sambil berdiri atau berbaring atau di tempat tidurnya atau dalam keadaan lainnya dan dia mendapat pahala, akan tetapi nilainya kurang dari yang pertama.” (Al Tibyan fi Adab Hamalat Al Quran).

Adapun dalil yang digunakan Imam Nawawi untuk penjelasan di atas adalah firman Allah SWT:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imraan: 190-191).

Rasulullah SAW bersabda:

“Bahawa Rasulullah s.a.w bersandar di pangkuanku ketika aku sedang haid dan beliau membaca al Quran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam suatu riwayat: “Beliau membaca al Quran sedang kepalanya berada dipangkuanku.”

Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari ra, katanya: “Aku membaca al Quran dalam sembahyangku dan membacanya di atas tempat tidurku.”

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, katanya: “Sungguh aku membaca hizibku ketika aku berbaring di atas tempat tidurku.”

Adab membaca al Quran selanjutnya ialah memohon perlindungan dengan mengucapkan ta`awwudz:

اَعُوْذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ

“Aku Berlindung kepada Allah SWT dari Syaitan yang terkutuk.”

Memang ada sebagian ulama salaf yang berkata, “Ta’awwudz itu sepatutnya dibaca sesudah membaca al Quran berdasarkan firman Allah SWT:

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (Q.S. Al Nahl: 98).

Imam Nawawi dalam kitabnya mengatakan:

Maksud ayat ini menurut mayoritas ulama, apabila kamu ingin membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah SWT dari syaitan yang terkutuk. Sejumlah ulama salaf berpendapat,

اَعُوْذُ بِا للهِ السَّمِيْعِ العَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ

“Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk.”

Tidaklah mengapa jika mengucapkan perkataan ini. Bagaimanapun yang terpilih adalah bentuk ta’awwudz yang pertama. Kemudian, sesungguhnya ta’awwudz itu mustahab (disunahkan) dan bukan wajib. Ta’awwudz itu disunahkan bagi setiap pembaca al Quran, sama saja di dalam shalat atau di luarnya. Di dalam shalat diutamakan membacanya dalam setiap rakaat menurut pendapat yang sahih dari dua pendapat tersebut. Menurut pendapat yang kedua diutamakan membacanya pada rakaat pertama. Jika ditinggalkan pada rakaat pertama, maka hendaklah dia membacanya pada rakaat kedua. Diutamakan pula membaca ta’awwudz dalam takbir pertama sembahyang jenazah, menurut pendapat yang lebih sahih di antara dua pendapat. (Al Tibyan fi Adab Hamalat Al Quran).

Adab selanjutnya dalam membaca al Quran setelah membaca ta`awwudz adalah membaca basmalah. Kecuali untuk surah al Taubah, maka tidak diperkenankan membaca basmalah, melainkan hanya ta`awwudz saja. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap urusan yang mempunyai kebaikan yang tidak dimulai dengan menyebut basmalah maka pekerjaan itu akan pincang (terputus dari rahmat Allah).” (HR. Ibn Hibban).

Adab selanjutnya adalah bersikap khusyuk dan merenungkan maknanya ketika membaca. Allah SWT berfirman:

“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. Al Nisaa: 82).

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shaad: 29).

Cerita mengenai keadaan para salaf al Shaalih tentang kekhusyukan mereka dalam membaca al Quran sangatlah banyak. Diantaranya:

Diriwayatkan dari Bahzin bin Hakim bahawa Zurarah bin Aufa seorang tabi’in yang mulia mengimami sejumlah orang dalam sembahyang fajar. Dia membaca Al-Qur’an sehingga ayat:

“Jika ditiup sangkakala maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sukar.” (QS Al Muddatsir: 8-9) Tiba-tiba dia jatuh dan meninggal. Banzin berkata: “Aku termasuk orang-orang yang memikulnya.”

Diriwayatkan pula, Ahmad bin Abul Hawari ra yang dijuluki Raihanatus Syam sebagaimana dikatakan oleh Abul Qasim Al-Junaidi rahimahullah, apabila dibacakan al Quran di dekatnya, dia menjerit dan jatuh pengsan

As-Sayyid yang mulia dan pemilik berbagai anugerah serta makrifat, Ibrahim Al-Khawash ra.a berkata: “Ubat penyembuh hati ada lima perkara, iaitu:

  • Membaca Al-Qur’an dan merenungi maknanya.
  • Perut yang kosong.
  • Sembahyang malam.
  • Berdoa dengan penuh tawadhuk di hujung malam.
  • Duduk bersama orang-orang sholeh.

Adab membaca al Quran selanjutnya adalah membaca dengan tartil, tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. Termasuk di dalamnya adalah memperbagus bacaan al Quran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya: “Hiasilah al Quran dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan al Quran.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca al Quran dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.

Para ulama mengatakan bahwa sunnah mengindahkan suara pada waktu membaca al Quran. Para ulama Salaf dan Khalaf daripada sahabat dan tabi’in serta para ulama Anshar (Baghdad, Bashrah dan Madinah) dan imam-imam muslimin sependapat dengan sunahnya mengindahkan suara ketika membaca al Quran. Perkataan dan perbuatan mereka berkenaan dengan perkara tersebut amat mahsyur,

Dalam kitabnya Al Tibyan fi Adab Hamalat al Quran, Imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berkata: “Membaca al Quran dengan tartil itu disunahkan untuk merenungkan artinya.” Mereka berkata: “Membaca dengan tartil disunahkan bagi orang bukan Arab yang tidak memahami maknanya kerana hal itu lebih dekat kepada pengagungan dan penghormatan serta lebih berpengaruh di dalam hati.” (Al Tibyan fi Adab Hamalat Al Quran).

Allah SWT berfirman dalam al Quran:

“atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (Q.S. Al Muzzammil: 4).

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad)

Diriwayatkan dari Abdullah ibn Mas’ud bahawa seorang lelaki berkata kepadanya: “Aku membaca Al-Mufashshal dalam satu rakaat.” Maka Abdullah bin Mas’ud menjawab: “Demikianlah, demikianlah syair itu. Sesungguhnya ada orang yang membaca al Quran dan tidak melampaui tenggorokan mereka. Bagaimanapun jika masuk di hati dan menjadi kukuh di dalamnya, maka ia pun berguna.” (HR. Bukhari Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Aku lebih suka membaca satu surah secara tartil daripada membaca al Quran seluruhnya.”

Diriwayatkan dari Mujahid bahawa dia ditanya tentang dua orang, seorang membaca surah al Baqarah dan Ali `Imraan sedangkan lainnya membaca surah al Baqarah saja. Waktunya, rukuk, sujud dan duduknya sama. Mujahid menjawab: “Orang yang membaca Surah al Baqarah saja lebih baik.”

Diriwayatkan dari Ummi Salamah ra bahawa dia menggambarkan bacaan Rasulullah SAW sebagai bacaan yang jelas huruf demi huruf. (HR. Abu Dawud, Nasa’I dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: hadits hasan sahih).

Mu’awiyyah ibn Qurrah ra dari Abdullah ibn Mughaffal ra dia berkata: “Aku melihat Rasulullah s.a.w pada hari penaklukan Mekah di atas untanya sedang membaca Surah Al-Fatihah dan mengulang-ulang bacaannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Sebagian sahabat kurang suka pengkhataman al Quran sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah SAW telah memerintahkan Abdullah Ibn Umar untuk mengkhatamkan al Quran setiap satu minggu (HR. Bukhari, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman ibn Affan, Zaid ibn Tsabit, mereka mengkhatamkan al Quran sekali dalam seminggu.

Adab selanjutnya, sebagaimana telah dianjurkan oleh para Ulama yaitu diutamakan jika melalui ayat yang mengandung rahmat agar memohon kepada Allah SWT dan apabila melalui ayat-ayat yang mengandung siksaan agar memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan dan siksaan. Atau berdoa: “Ya Allah, aku mohon kesehatan kepada-Mu atau keselamatan dari setiap bencana.” Jika melalui ayat yang mengandung tanzih (penyucian) Allah SWT maka dia sucikan Allah SWT dengan ucapan, Subhaanalalahi wa Ta’aala atau Taabaraka wa Ta’aala atau Jallat Azhamatu Rabbina.

Adab selanjutnya adalah membaca al Quran dengan tertib mushaf. Para ulama menganjurkan untuk membaca al Quran dengan urut, dimulai dengan al Fatihah, al Baqarah, Ali Imran, dan seterusnya hingga al Naas.

 

Dinukil ;

Al-Haqiir wal faqiir fil’ilmi wal adab

( Mahidin Azhari )

Website : https://desabanjarejo.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s